Nasib Budaya Lokal di Tengah Kencangnya Arus Globalisasi

Pendahuluan
Tak bisa dihindari, semakin modern nya jaman, arus globalisasi pun semakin menerjang di setiap peradaban kehidupan bermasyarakat di masing-masing negara di setiap belahan dunia. Bermula dari bahasa global, mata uang global, kurs uang global, hingga pasar global. Kemajuan seperti ini bukannya berdampak negatif, melainkan menguntungkan pihak-pihak yang bersangkutan. Akan tetapi, hal tersebut dipandang dari sisi yang terlihat saja, apabila kita menelusuri dari sisi-sisi yang tidak terlihat, tentunya arus global ini memberikan dampak negatif yang tidak sedikit bagi masing-masing negara. Kita contohkan saja pada kebudayaan, nasionalisme, akhlak, akal pikiran dan moralitas. Itu semua merupakan sisi-sisi yang tidak terlihat, yang sedikit demi sedikit dihantam oleh arus global yang menerjang.
Dengan adanya arus global seperti ini, persaingan pun dituntut semakin ketat dan bersaing. Bahkan hal yang tidak seharusnya (yang menyangkut moralitas, budaya, akhlak, nasionalisme, dan akal pikiran) pun dilakukan demi menyelesaikan kompetisi dan menggapai kemenangan pada masing-masing periode kompetisi.
Kata ‘globalisasi’ itu sendiri diambil dari kata global. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh. Marshall McLuhans menyebut “dunia yang diliputi kesadaran globalisasi in global village (desa buana)”. Dunia menjadi sangat transparan, sehingga seolah tanpa batas administrasi suatu Negara. Batas-batas geografis suatau Negara menjadi kabur. Globalisasi membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan pesat lmu pengetahuan dan teknologi serta adanya sstem informasi satelit. Arus globalisasi lambat laun semakin meningkat dan menyentuh hamper setiap aspek kehidupan sehari-hari. Globalisasi memunculkan gaya hidup cosmopolitan yang ditandai oleh berbagai kemudahan hubungan dan terbukanya aneka ragam informasi yang memungkinkan individu dalam masyarakat mengikuti gaya-gaya hidup baru yang disenangi” (Muctarom, 2005).
Istilah globalisasi yang dipopulerkan Theodore Lavitte pada 1985 ini telah menjadi slogan magis di dalam setiap topik pembahasan. Substansi gobalisasi adalah ideologi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai bidang: keonomi, politik, sosial, teknologi dan budaya. Globalisasi juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses multilapis dan multidimensi dalam realitas kehidupan yang sebagian besar dikonstruksi Barat, khususnya oleh kapitalisme dengan nilai-nilai dan pelaksanaannya. Didalam dunia global, bidang-bidang di atas terjalin secara luas, erat, dan dengan proses yang cepat. Hubungan ini ditandai dengan karakteristik hubungan antara penduduk bumi yan gmelampaui batas-batas konvensional, seperti bangsa dan Negara. Keadaan demikian ini menunjukkan bahwa relasi antara kekuatan bangsa-bangsa di dunia akan mewarnai berbagai hal, yaitu sosial, hukum, ekonomi, dan agama.
Dampak negatif arus global pun dirasakan dalam dunia desain. Perkembangan desain baik dari segi seni rupa (art), arsitektur, digital, dan media cetak, pada masa sekarang ini semakin marak perwujudannya di dalam lingkungan sehari-hari, baik untuk konsumsi pribadi, maupun digunakan untuk bahan komersial. Penggunaanya pun sangat beragam, ada yang menggunakan gaya desain dari luar maupun secara nasional, ada yang menggunakan konsep maupun tidak, dan ada pula yang mengerti teori desain&komposisi maupun tidak sama sekali. Apabila kita menelusuri jalan-jalan di sekitar ibukota, baik di pusat maupun pinggir ibukota ini dapat kita jumpai berbagai macam nama yang terpampang di setiap kios-kios desain, ataupun semi percetakan. Hal ini semakin jelas penampakannya dan sangat berdampak pada kondisi dan kualitas desain budaya/budaya desain di Negara kita, Republik Indonesia. Banyak dari Sarjana Seni yang menerapkan gaya desain luar sebagai rancangan pola desainnya, seperti gaya desain Art Nouveau yang sekarang ini kembali naik daun dalam peradaban desain di seluruh negeri. Mereka (mayoritas desainer) dalam penerapannya sama sekali tidak menyentuh nasionalisme, kecuali jika ada even berlangsung, baik itu even mengenai hari besar kebangsaan (seperti hari kemerdekaan, hari pahlawan, dll), maupun even tertentu (contoh : lomba desain nasionalisme bati, wayang, dll). Dimanakah rasa nasionalisme desainer di Indonesia? Kemanakah budaya Indonesia di-ungsi-kan? Sungguh tragis nasib budaya desain di Indonesia, karena kalah saing dengan budaya-budaya desain dari luar (bahkan dalam hal lain pun demikian). Globalisasi sebagai sebuah interelasi yang sedemikian eratnya antara Negara, pasar dan teknologi. Kondisi ini memungkinkan baik perorangan, perusahaan, maupun Negara untuk lebih mudah menjangkau ke seluruh penjuru dunia, lebih cepat, lebih dalam, lebih luas dan tentu saja lebih murah daripada sebelumnya. Globalisasi ditandai dengan disatukannya dunia dengan teknologi internet (world-wide-web); meningkatnya fluktuasi perdagangan internasional sampai ke derajat yang luar biasa; digantinya sistem, mekanisme hingga budaya yang lama, yang tidak efisien dengan yang baru, yang lebih produktif, lebih efisien; dan seluruh teman maupun lawan dikonversi menjadi competitor” (Fredman, 1999).

1.                Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Perfilman Lokal
Kemajuan informatika dan teknologi semakin terkontaminasi dengan kejayaan arus global yang cenderung merugikan budaya lokal. Film-film dan musik-musik asia (Korea dan Jepang) dan negara bagian barat pada masa sekarang ini menduduki peringkat pertama di setiap negara, dalam hal ini adalah Indonesia. Peminatnya pun beragam dan semakin melonjak drastis, dari mereka yang dikategorikan di bawah remaja hingga di atas remaja. Ambil contoh saja film Boys Before Flowers, Bigbang, dll. Film-film berbahasa asli Korea tersebut sangat digandrungi oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Secara tidak sadar, pengikisan budaya sedang berlangsung dan semakin merajalela di kalangan perfilman Indonesia. Jangankan mengenai film budaya, bahkan dengan film-film non-budaya pun semakin terkikis dan berkurang drastis peminatnya.
Inilah sebenarnya dampak negatif yang tidak terlihat dengan bebasnya arus globalisasi bergentayangan di muka setiap negara. Negara semakin dirugikan oleh negaranya sendiri. Mengapa tidak? Karena masyarakatnya sendiri lebih mempopulerkan negara lain ketimbang yang negaranya miliki.
Tanda dari globalisasi, menurut Anthony Giddens, adalah “intensifikasi hubungan sosial world-wide, yang saling menghubungkan lokalitas yang jauh. Akibatnya, sesuatu yang bersifat lokal selalu dipengaruhi apa yang terjadi ribuan mil dari tempat itu, begitu juga sebaliknya”. Wallerstein yang menyebut globalisasi sebagai “proses integrasi tiada akhir” pada 1974, bahkan telah yakin proses itu telah bergerak bebas menerjang batas fisik dan imajiner negara-bangsa.
Pada era semacam inilah, serial drama Korea, Jepang, Hongkong dan negara-negara bagian barat seolah menjadi kosa kata wajib bagi kaum muda kelas menengah Asia. Wajah Bae Yong Jun dan Rain dari Korea, juga Ayu dan Takuya Kimura dari Jepang, juga Zang zi Yi dari Cina, dengan mudah dikenali sebagai ikon iklan mulai dari Guangzhou hingga Singapura. Dalam era ini pula, Korea dan Jepang sangat sadar bahwa memajukan industri konten mereka (yang pada 2000 saja nilainya sudah US$ 12 milyar) sama dengan memperkuat soft power mereka terhadap bangsa lain.
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan kaca mata semacam inilah kita mungkin harus membaca Indonesia. Ketika kita melihat Agnes Monica meliuk-liuk menari, lalu melihat betapa penyanyi Korea, Rain, dalam konsernya di sekujur Asia telah lebih dahulu meliuk dengan gaya serupa; juga ketika melihat kaum muda kita di Bandung, atau di Kelapa Gading, menyelenggarakan karnaval cos-play ala anime Jepang; atau ketika menyaksikan betapa filmmaker muda kita bersusah payah mencoba meniru estetika film Korea, kita tahu di mana letak kita sebagai bangsa di hadapan apa yang kita sebut globalisasi ini. Indonesia sangat ingin maju dan bersaing, akan tetapi dengan meniru sedikit banyak hal yang menjadi daya tarik pesaing. Bukannya menjadi pelopor akan kemajuan budaya perfilman. Melainkan mekjadi pelopor akan kemajuan dengan cara yang demikian. “Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing, diktat-diktat hanya boleh member metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan masalah”. (Rendra, 1977).


2.                Pengaruh Globalisasi Terhadap Bangunan Budaya Lokal
Indonesia mendapat pengakuan dunia dari UNESCO sebagai world cultural heritage atau warisan budaya dunia melalui peninggalan arkeologis seperti candi-candi, khususnya Candi Borobudur dan Prambanan. Pertumbuhan pembangunan yang semakin meningkat di Indonesia ini akan lebih menuntut pendekatan arsitektural yang lebih terkoordinasi, antisipatif, pengawasan yang lebih efektif, dan menuntut kemampuan kelembagaan yang lebih beroperasional efektif, tentu saja dengan penerapan peraturan yang lebih tegas. Semakin tahun yang kita dapat lihat bersama, perkembangan dalam bidang arsitektur cenderung selalu mengarah kepada modernisasi, bahkan pemilik dana tidak segan-segan mendatangkan arsitektur dari luar negeri untuk membuat desain bangunannya.
Indonesia dalam kenyataannya memiliki sangat banyak budaya dalam bidang arsitektur. Sangat disayangkan apabila semua itu perlahan menuju kepunahan.
Harusnya dalam arsitektural, para arsitek menggunakan aliran deterministic melawan stokastik, yaitu “aliran yang mengharuskan bentuk mengikuti budaya” (Prof. Skolimowski, 1976). Aliran ini juga digunakan dalam pembangunan gedung parlemen di Jepang:
Banyak praktisi budaya dan budayawan yang memandang budaya visual sebagai wilayah cultural study yang kaya, yang merambah berbagai bidang kehidupan modern yang sarat degan fenomena baru. Sedangkan masyarakat akademis (desainer, dll) memandang budaya visual sebagai sebuah bentuk peradaban kontemporer berkaitan dengan munculnya budaya alternatif yang lahir dari masyarakat megapolitan. “Desain kontemporer sendiri berasal dari kata temporer atau waktu saat ini, menurut istilah adalah waktu yang berubah –ubah , intinya desain itu bersifat present, sedang ‘in’ / lagi ngetren atau sedang digemari”. (http://andyrahman.wordpress.com/2008/06/14/desain-kontemporer-atau-desain-modern-kahbinggung/).
Apabila bangsa ini menerapkan aliran deterministic melawan stokastik, maka budaya arsitektural kita tidak akan punah tertelan jaman. Karena aliran ini bukan merubah pola yang lama, melainkan memperbarui pola yang lama menjadi lebih sesuai dengan masa sekarang namun tidak menghilangkan nilai-nilai keasliannya serta unsur estetiknya. Menjadikannya sebagai suatu mahakarya kontemporer dan selalu digemari.


3.                Penyelamatan Budaya (Pada Remaja) Di Atas Arus Globalisasi
Globalisasi yang mengemuka dewasa ini merupakan hasil dari system dan proses pembangunan dunia internasional yang bertumpu kepada strategi “satu memantapkan semua” yang dijalankan kaum kapitalis dalam masyarakat internasional yang demikian heterogen.  Strategi itu sendiri merupakan respons terhadap tantangan cultural dan intelektual masyarakat internasional dewasa ini. Konsep yang mulanya dirumuskan sebagai Konsensus Washington (Chomsky, 2001), akhirnya dipopulerkan dengan terminology globalisasi. Ia tampil sebagai sebuah terminology baru, dalam bahasa mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, James Baker : “sebuah tatanan ekonomi liberal global, sebuah tatanan dunia kapitalis”.
Arus globalisasi sangat cepat merangsang kaum muda, dapat dilihat dari kemajuan informatika dan teknologi yang seolah mewajibkan kaum muda menonton dan mendengarkan tayangan/musik dari negara lain, dan pula seolah mewajibkan mereka memiliki benda-benda elektronik yang sedang ngetrend seperti blackberry, serta merasuk pada minat/daya tarik pada aliran-aliran seni 2d maupun 3d dari negara lain. Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme. Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :
1.    Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2.    Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3.    Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4.    Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
5.    Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.



PENUTUP
Sebagaimana kita ketahui, globalisasi tidaklah menjadi penyebab runtuhnya kebudayaan di suatu negara, hal tersebut dikarenakan oleh mayoritas masyarakat tidak menyadari dan melihat sisi-sisi lain yang tidak terlihat yang sebenarnya merupakan dampak dari kencangnya arus globalisasi. Semuanya belum begitu terlambat jika ingin dibenahi, seperti kata pepatah “lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali”. Kita sebagai masyarakat, harusnya menjadi pemegang peranan penting terhadap berlangsungnya ‘masa kontrak’ kebudayaan negara kita di negara kita sendiri. Hal tersebut dapat kita lakukan dengan cara memperkuat rasa nasionalisme pada diri kita sendiri sebagai permulaan, dan kemudian kita ‘hasut’ lingkungan kita untuk bersama-sama membangkitkan kembali aspek-aspek budaya yang ada. Sebenarnya hal ini dapat dikatakan sebagai hal yang tidak mudah, akan tetapi juga bisa dibilang mudah. Kuncinya adalah semangat dan bertindak, selalu mencoba dan berusah, seperti Tuhan yang selalu sayang kepada hambaNya, seorang ayah yang tak pernah lelah menafkahi keluarga, seorang guru yang tak pernah menyerah mendidik anak bangsa,  dan seperti seorang ibu yang tak pernah putus asa menjaga anaknya.
Saya kira tidak perlu panjang lebar untuk mengkritisi dan memberikan saran terhadap kemajuan nilai budaya, karena pada dasarnya yang saya ingin sampaikan adalah tentang niat dan tekad. 2 hal tersebut yang berperan sangat besar dan merupakan poin utama yang menjadi prioritas untuk memajukan budaya bangsa. Jika mayoritas dari kita memiliki 2 hal itu, niscaya kebudayaan Indonesia menjadi mekar lagi di kalangan masyarakat Indonesia sendiri, karena saya cinta Indonesia, kamu cinta Indonesia, dan kita semua cinta Indonesia.
Terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA
Budihardjo, Eko., 1997, Arsitektur Sebagai Warisan Budaya, Djambatan, Jakarta.
Jamli, Edison dkk., 2005, Kewarganegaraan, Jakarta, Bumi Akasara.
Rendra., 1977, Potret Pembangunan dalam Puisi,.
Sachari, Agus., 2007, Budaya Visual Indonesia, Erlangga, Jakarta.
Sachari, Abib., 1986, Paradigma Desain Indonesia, Rajawali Jakarta, Jakarta.

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7124
http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/membaca-globalisasi-dalam-kaca-mata-perang-budaya/
&Itemid=103

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBANGUN INDONESIA MERDEKA

KEMERDEKAAN DIMULAI DARI KEBIASAAN